Jumat, 31 Maret 2017

Inilah 3 Waktu Utama Membaca Ayat Kursi
ayat kursi adalah ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka’ab sebagai ayat paling agung dalam Al Qur’an. Kapan waktu yang paling baik untuk membaca ayat kursi? Nah, ada beberapa waktu utama membaca ayat kursi. Di antaranya:

1. Ketika pagi dan petang

Mengenai orang yang membaca ayat kursi di pagi dan petang hari, dari Ubay bin Ka’ab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.” (HR. Al Hakim 1: 562. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 655).

2. Sebelum tidur

Hal ini dapat dilihat dari pengaduan Abu Hurairah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang mengajarkan padanya ayat kursi.

Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).

3. Setelah shalat lima waktu

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram). Maksudnya, tidak ada yang menghalanginya masuk surga ketika mati. () 

Kamis, 30 Maret 2017

Ketahui Tubuh Dirasuki Jin, Begini Caranya

Di dunia ini kita hidup bersama makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain. Salah satu makhluk Allah itu ada yang tak kasat mata. Mereka berada di sekeliling kita. Bahkan, mereka berusaha untuk bisa bersatu dengan tubuh kita. Sebab, ia ingin memberikan pengaruh buruk pada diri kita. Siapakah dia? Tiada lain dialah jin.

Ketahuilah, bahwa jin yang menetap di dalam tubuh seseorang bisa menimbulkan gangguan serius, seperti rasa sakit pada bagian tubuh yang tak terdeteksi secara medis. 

Sering mimpi buruk, mendengar bisikan-bisikan yang menyuruh melakukan sesuatu merupakan gejala yang tampak saat tidur. Sedangkan hal lainnya bisa terasa seperti mudah emosi dan marah, malas beribadah termasuk shalat serta membaca Quran, cepat lesu atau mudah lelah, dan sebagainya.

Gangguan jin ini ternyata berbahaya. Jika dibiarkan, bisa membuat kita jauh dari Allah karena sulitnya untuk beribadah. Lalu, bagaimana caranya kita bisa tahu apakah tubuh sudah dirasuki jin?
Sebagaimana dilansir fadhilza.com bahwa cara mendeteksi diri kita diganggu oleh jin ada beberapa cara.

Pertama, dengarkan rekaman rukiyah melalui headphone dengan volume yang kuat. Ayat yang dibaca dalam rekaman tersebut, yaitu surat Al-Fatihah, surat Al-Baqarah ayat 1-5, dan surat Al-Baqarah ayat 102 secara berulang-ulang.

Kedua, pejamkan mata dan jangan ikut bacakan ayat-ayat ini. Baik di mulut maupun di hati. Ketiga, perhatikan reaksi tubuh kita setelah selesai. Jika terjadi batuk, berpeluh-peluh, terasa mual, jantung berdegup kencang, terasa debar-debar, ada benda bergerak-gerak di bawah kulit, sendawa, mengantuk, pening, dan menguap, maka dapat dipastikan ada jin yang berdiam di tubuh kita.

Jika sudah terdeteksi seperti itu sebaiknya segera hubungi ustadz atau tempat rukiyah syariah yang dapat membantu membersihkan jin dari tubuh. Saat ini sudah banyak panduan-panduan untuk kita melakukan rukiyah mandiri atau pun dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah.

Pada dasarnya jin tidak sanggup berdiam di dalam tubuh orang yang beriman dan bertawakal. Sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 100, “Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”
Kisah Nabi Sulaiman, Semut dan Cacing Buta
Pada suatu ketika Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau, kemudian tampaklah seekor semut membawa sebutir gandum menuju ke tepi danau.

Di tepi danau, muncul lah seekor katak dari dalam air, katak itu membuka mulutnya, lalu semut itu bersama sebutir gandum yang dibawanya masuk ke dalam mulut katak, kemudian katak itu pun menyelam ke dalam danau dalam waktu yang cukup lama.

Selang beberapa waktu, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya, sehingga tampaklah semut tadi yang sudah tidak membawa sebutir gandum lagi bersamanya.

Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan, ”Wahai semut, apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?”

”Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekungan batu itu terdapat seekor cacing yang buta,” jawab semut.

“Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya,” lanjut semut.

”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah swt. telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya. Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku. Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya,”

“Kemudian setelah aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu, aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini. Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”

Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?” 
”Ya, cacing itu mengucapkan: Yâ man lâ yansani fî jaufi hâdzihi bi rizqika, lâ tansâ ‘ibâdakal mu’minîna bi rahmatik (Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu).”

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa selama kita masih hidup di dunia , Allah sudah menyiapkan rezeki untuk anak Adam. Bahkan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). Wallahu a’lam bish-shawab. [] 
   KETIKA MALAIKATUL MAUT TERKEJUT
Tersebutlah  seorang menteri di masa Nabi Dawud alayhis salaam yang bernama Jalil al-Qadri. Ketika Nabi Dawud meninggal, ia menjadi menteri pula di masa Sulaiman ibn Dawudalayhimas salaam.
Suatu pagi,

Nabi Sulaiman alayhis salaam mengadakan pertemuan bersama menteri-menterinya, termasuk dengan menteri Jalil al-Qadri.

Tiba-tiba masuklah seorang lelaki ke majlis itu. Ia memberikan salam dan berbisik kepada Nabiyullah Sulaiman alayhis salaam. Setelah itu, sebelum lelaki tersebut keluar, ia memandang dengan tajam kepada Jalil al-Qadri, sehingga sang menteri ketakutan.

Ketika lelaki itu keluar, sang menteri pun bertanya kepada Nabi Sulaiman alayhis salaam, “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang baru saja keluar tadi? Sungguh tatapan matanya telah membuatku ketakutan.”

Nabi Sulaiman alayhi salam pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah malaikat maut (malakul mawt) yang mendatangiku dalam wujud manusia.”

 Seketika gemetarlah menteri itu. Sambil menangis ia pun berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar engkau memerintahkan angin, agar ia membawaku ke tempat yang paling jauh, yaitu India.”

Nabi Sulaiman alayhis salaam pun memenuhi permintaannya. Sang menteri akhirnya pergi saat itu juga menuju India dengan berkendaraan angin.

Esok harinya, malaikat maut datang kembali menemui Nabiyullah Sulaiman alayhis salam. Nabi Sulaiman pun bertanya kepadanya, “Wahai malakul maut, sungguh engkau telah membuat sahabatku ketakutan. Mengapa engkau kemarin menatapnya dengan demikian tajam?”

Malaikat maut pun menjawab, “Wahai Nabi Allah, saat aku mendatangimu kemarin pagi, aku terkejut melihat Jalil al-Qadri masih ada bersamamu di tempat ini. Padahal sebelumnya, Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya ba’da dzuhur di India.”

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,”  (QS. Al-Jumu’ah ayat 8).